Langsung ke konten utama

OPINI || MERAJUT DIKSI, MERANGKAI IMAJI, BERKEMEJA BUMI.

 


Sebuah masakan tidak akan terasa nikmat dan mantap tanpa adanya bumbu pelengkap, sepiring pisang cokelat tak akan pernah tampak enak tanpa pemilihan pisang yang tepat. Begitupun dalam sebuah karya tulis, pemilihan diksi yang akurat akan menjadi penentu kesuksesan seorang penulis. Karena pada dasarnya pembaca akan lebih tertarik dengan sebuah tulisan yang memiliki serat makna serta pemilihan katanya itu baik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi did definisikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Dalam sebuah karya, penulis hendaknya menghidangkan penataan diksi yang tepat, sehingga pembaca dapat menyerap sari pati karya yang ditulis dengan nyaman dan nikmat. Sederhananya, pemilihan diksi dalah penyocokan kata.

Ada beberapa tips memilih diksi yang tepat agar pembaca bisa menikmati tulisan kita dengan tanggapan hebat.

1. Memilih kata baku. Lebih cenderung menciptakan sebuah karya dengan ittitude yang baik. Yakni dengan menggunakan kata baku, terlebih karya tersebut ditujukan terhadap khalayak ramai.

2. Menggunakan kata yang lazim atau simplenya menggunakan kata yang diketahui banyak orang. Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman dalam pembacaan.

3. Menggunakan kata yang cermat.

Mungkin dari ketiga tips tersebut dapat penulis ringkas menjadi sebuah slogan “pilih, pilah, pulihkan”. Pilihlah apa yang memang layak untuk dipilih, pilah terlebih dahulu pilihanmu, lantas pulihkan jika perlu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NARASI || kumpulan cerita yang berending derita

Tanpa kusadari, rasa ini ternyata telah berkelana cukup jauh dan lumayan dalam, mengarungi kata demi kata perkenalan dan berakhir dengan ikatan percintaan. Dulu mendapatkanmu merupakan komitment terbesarku, mencintaimu dengan sederhana, menyayangimu apa adanya. Namun kini, semua seakan sirna, kau pergi memutuskan tali yang kuikat rapi, kau berkelana mengelilingi semua rasa kemudian sirna entah kemana. Kau tak jauh beda dengan makhluq ghaib. Hanya datang menakut-nakuti, lalu pergi untuk susah dicari. Kau tak kalah samanya dengan sulap, sekejap ada dan sekejap tiada, Cuma bikin aku gila dan hilang jiwa. Kenapa kau masih ada? Kalau akhirnya menyisakan kecewa!. Kenapa kau masih hadir didunia nyata?, kalau pada akhirnya kita hanyalah kumpulan cerita yang berending derita. Yogyakarta, 13 November 2021

PUISI || TELEPHONE MATA DAN KERETAKAN KECEWA

  Bintang shubuh berkedip manja menatapku Seakan ingin menyampaikan pesan tanpa berseru Disitu kebahagiaan berkelompok Menanam benih-benih rindu Dari sendu jadi candu Angin malam menambah rangsangannya Membelai lembut tanpa bertegur sapa Dulu kita pernah sama-sama tersenyum ria dibawah pekat malam Menganyam bahagia dalam diam Tanpa suara… Hanya berkomunikasi lewat kedipan mata Dan benar… Kejadian itu tetap kau terapkan sampai kini Kau pergi tanpa meninggalkan jejak Meninggalkanku yang menahan hati yang kian retak Aku tak mau seperti ini Lebih baik kita bertengkar hebat, lalu saling memaafkan Dari pada saling diam lalu saling meninggalkan.