Langsung ke konten utama

PUISI || AKULAH INDONESIA! BERSTATUS EMAS DI 45

 

"
Satu abad menuju keemasan
Terdengar suara dari sudut besar negeri
Bergemuruh semangat menyeru janji
Tangan mengepal dengan suara lantang berlari riang mengumandangkan
“AKULAH INDONESIA! BERSTATUS EMAS DI 45”
Otak mulai berselancar ke 2045
Mengotak atik sejarah peradaban
Mengobrak pelajaran lalu untuk Indonesia maju
Berkumpul dari berbagai suku, bersatu dalam indonesiaku
Raga mulai menari riang mengikuti irama
Melangkah berhaluan satu nada
Memukul mundur kemalasan. Menjungung tinggi perjuangan
Bersatu dalam satu naungan
“AKULAH INDONESIA! BERSTATUS EMAS DI 45”
Kami pemuda yang siap menjaga keutuhan sebenarnya
Dengan menjunjung tinggi nama harum bangsa
Tidak akan terbiarkan keutuhan tercerai-berai
Rukun dan damai dalam mewujudkan kenyamanan
Saatnya berkembang berganti maju
Sudah terlalu lama Indonesia berada dalam fase yang menyedihkan
Kekreatifan, ekonomi, SDM semuanya tertinggal
Sekarang waktunya Indonesia memperkenalkan masa keemasannya
Rasa ingin tahu, integritas, etos kerja, gotong royong
Mari kita tanam dalam dada pemuda.
Garuda butuh asupan pemuda
Merah putih butuh pengawet warna
Ibu pertiwi butuh kita
Bangulah! Ambil tekadmu! Merah putih butuh dicat ulang warnanya
Jangan biarkan dia luntur
Bangkitlah! Beritahu dunia
“AKULAH INDONESIA! BERSTATUS EMAS DI 45”
Yogyakarta, 19 November 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NARASI || kumpulan cerita yang berending derita

Tanpa kusadari, rasa ini ternyata telah berkelana cukup jauh dan lumayan dalam, mengarungi kata demi kata perkenalan dan berakhir dengan ikatan percintaan. Dulu mendapatkanmu merupakan komitment terbesarku, mencintaimu dengan sederhana, menyayangimu apa adanya. Namun kini, semua seakan sirna, kau pergi memutuskan tali yang kuikat rapi, kau berkelana mengelilingi semua rasa kemudian sirna entah kemana. Kau tak jauh beda dengan makhluq ghaib. Hanya datang menakut-nakuti, lalu pergi untuk susah dicari. Kau tak kalah samanya dengan sulap, sekejap ada dan sekejap tiada, Cuma bikin aku gila dan hilang jiwa. Kenapa kau masih ada? Kalau akhirnya menyisakan kecewa!. Kenapa kau masih hadir didunia nyata?, kalau pada akhirnya kita hanyalah kumpulan cerita yang berending derita. Yogyakarta, 13 November 2021

PUISI || TELEPHONE MATA DAN KERETAKAN KECEWA

  Bintang shubuh berkedip manja menatapku Seakan ingin menyampaikan pesan tanpa berseru Disitu kebahagiaan berkelompok Menanam benih-benih rindu Dari sendu jadi candu Angin malam menambah rangsangannya Membelai lembut tanpa bertegur sapa Dulu kita pernah sama-sama tersenyum ria dibawah pekat malam Menganyam bahagia dalam diam Tanpa suara… Hanya berkomunikasi lewat kedipan mata Dan benar… Kejadian itu tetap kau terapkan sampai kini Kau pergi tanpa meninggalkan jejak Meninggalkanku yang menahan hati yang kian retak Aku tak mau seperti ini Lebih baik kita bertengkar hebat, lalu saling memaafkan Dari pada saling diam lalu saling meninggalkan.

OPINI || MERAJUT DIKSI, MERANGKAI IMAJI, BERKEMEJA BUMI.

  Sebuah masakan tidak akan terasa nikmat dan mantap tanpa adanya bumbu pelengkap, sepiring pisang cokelat tak akan pernah tampak enak tanpa pemilihan pisang yang tepat. Begitupun dalam sebuah karya tulis, pemilihan diksi yang akurat akan menjadi penentu kesuksesan seorang penulis. Karena pada dasarnya pembaca akan lebih tertarik dengan sebuah tulisan yang memiliki serat makna serta pemilihan katanya itu baik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi did definisikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Dalam sebuah karya, penulis hendaknya menghidangkan penataan diksi yang tepat, sehingga pembaca dapat menyerap sari pati karya yang ditulis dengan nyaman dan nikmat. Sederhananya, pemilihan diksi dalah penyocokan kata. Ada beberapa tips memilih diksi yang tepat agar pembaca bisa menikmati tulisan kita dengan tanggapan hebat. 1. Memilih kata baku. Lebih cende...