Aku berkelana menujumu.
Berjalan di malam yang larut, ditemani rasa takut.
Kau begitu dekat juga sangat jauh. Membuatku rapuh untuk terus menempuh.
Hingga suatu saat gigi kasihku perlahan mulai menanggal, tinggal tunggal yang masih tinggal tak bertuan.
Kau begitu jauh juga sangat dekat. Memikat tapi sulit diikat.
Kau begitu dekat tapi sulit melekat, hingga buku baku yang ingin kupersembahkan padamu telah terbengkalai di bukit baka yang begitu sulit dijamu.
Namun meski begitu, aku akan tetap menyemogakanmu dalam setiap do’a pada sang semesta.
Walau angin tak lagi bersahabat angan.
Walau angan tak lagi berkelana bersama kenang.
Do’aku akan selalu kusemilirkan lewat teratai yang terbengkalai dalam air paling tenang.
Hingga dia dapat melupakan sedikit demi sedikit kenangan yang memasung angan untuk tetap bertualang.
Semuanya hanya butuh soal waktu.
Waktu dimana aku harus bisa melupakan.
Waktu dimana aku harus bisa merelakan.
Dan waktu dimana aku harus bertahan dalam lautan kecewa yang amat dalam
Jogyakarta, 16 November 2021
Komentar
Posting Komentar